Tampilkan postingan dengan label khuthbah jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khuthbah jum'at. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2009

POLITIK DAN PEMIMPIN

الْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ اْلاَحَدِ, اْلفَرْدِ الصَّمَدِ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَعَظِيْمِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا اَحْمَدَ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ اَرْسَلَهُ اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ اُوْصِي نَفْسِي وَاُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَيِّدُ اْلقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Hadirin Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dengan terus berusaha menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Shalawat serta salam semoga Allah limpahkan kebangkuan baginda Rasul Muhammad saw, beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman kelak, termasuk kita yang hadir ini.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Tidak lama lagi kita akan mengikuti pesta demokrasi bangsa ini, tepatnya insya Allah pada tanggal 9 April mendatang. Di mana kita akan menentukan masa depan bangsa ini sekurang-kurangnya 5 tahun ke depan. Ada 44 partai politik yang ikut meramaikan pemilu besuk. Baik buruknya pemerintahan kita ke depan akan bergantung pada kita, sebagai pemilih. Islam sebagai agama rahmat li al-alamin sangat peduli terhadap masalah ini. Kepedulian ini tampak sekali dari adanya bimbingan, arahan, dan pedoman dalam memilih pemimpin yang sampaikan oleh Islam. Pemimpin yang bagaimanakah yang baik menurut Islam. Ada beberapa ciri pemimpin yang baik yang disampaikan oleh Rasulullah, di antaranya, Rasulullah bersabda:
سَيِّدُ اْلقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.
Ciri pertama dari pemimpin yang baik adalah yang mau melayani umat (rakyatnya) dengan baik.
Pemimpin yang minta dilayani, minta dihormati, dan minta diperlakukan secara berbeda, bukanlah ciri pemimpin yang baik.
لَنْ نَسْتَعْمِلَ عَلىَ عَمَلِنَا مَنْ اَرَادَهُ
Kami tidak mengangkat orang yang berambisi kedudukan
Ciri kedua adalah, pemimpin yang memperoleh jabatan bukan karena ambisi, tetapi karena memang dipandang mampu
ثَلاَثٌ مِنَ اْلفَوَاقِرِ, إِمَامٌ إِنْ أَحْسَنْتَ لَمْ يَشْكُرْ وَاِنْ أَسَأْتَ لَمْ يَغْفِرْ, وَجَارٌاِنْ رَأَى خَيْرًا دَفَنَهُ وَاِنْ رَأَى شَرًّا أَشَاعَهُ وَامْرَأَةٌ اِنْ حَضَرَتْ آذَتْكَ, وَاِنْ غِبْتَ عَنْهَا خَانَتْكَ
Ada tiga hal yang termasuk musibah yang membinasakan, 1) Seorang penguasa yang ketika kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak berterima kasih, dan ketika kamu berbuat kesalahan dia tidak memaafkannya; 2) Tetangga yang ketika melihat kebaikanmu dia pendam tapi ketika melihat keburukanmu dia sebarluaskan; 3) isteri yang ketika berkumpul dia mengganggumu dan ketika kamu pergi dia mengkhianatimu.
Ciri pemimpin baik yang ketiga adalah, pemimpin yang tahu berterima kasih dan mau memaafkan kesalahan orang lain.
لَعَنَ اللهُ الرَّاشِي وَاْلمُرْتَشِي وَ الرَّائِشِ بَيْنَهُمَا
Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka.
Ciri keempat adalah, pemimpin yang tidak mau menyuap, tidak mau disuap dan tidak memberi kesempatan bagi terjadinya praktek suap
سَتَكُوْنُ عَلَيْكُمْ اُمَرَاءٌ مِنْ بَعْدِي يَعِظُوْنَ بِالْحِكْمَةِ عِلىَ مَنَابِرَ, فَإِذَا نَزَلُوْا أُخْتُلِسَتْ مِنْهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اَنْتَنُ مِنَ الْجِيْفِ
Akan datang setelahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijkasana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.
Ciri kelima adalah, pemimpin yang tidak hanya pandai berorasi dengan mengumbar janji tetapi ketika ada kesempatan dia korupsi.
مِنْ اَخْوَنِ الْخِياَنَةِ تِجَارَةُ اْلوَالىِ فىِ رَعِيَّتِهِ
Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.
Ciri keenam adalah, pemimpin yang tidak berkhianat. Yaitu, yang tidak menjual rakyat untuk kepentingan pribadi.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Itulah beberapa ciri pemimipin yang baik, yang telah dijelaskan Rasulullah kepada kita. Lalu bagaimana sikap kita terhadap pemerintah yang terpilih nanti ? Allah SWT dalam surat al-Nisa’ berfirman:
يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولىِ اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rasul, dan pemegang kekuasaan.
Melalui ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada pemerintah. Akan tetapi, satu hal yang harus kita kaji kembali dari ayat tersebut adalah, bahwa perintah Allah untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya dalam ayat di atas diikuti lafal ATHII’UU. اَطِيْعُوا اللهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ. Sementara, perintah taat kepada penguasa tanpa diikuti kata ATHII’UU. Bukan وَاَطِيْعُوا َأُولىِ اْلأَمْرِ tetapi وَأُولىِ اْلأَمْرِ. Ini megandung maksud bahwa kewajiban taat kepada Allah dan Rasul adalah mutlak. Kapanpun dan di manapun. Tetapi kewajiban taat kepada pemerintah tidak mutlak, melainkan relatif. Tergantung kebijakan pemerintah itu sendiri. Jika dalam memerintah ia berpegang pada kitab Allah dan sunnah Rasul. Ia menegakkan keadilan, menebarkan kebersamaan dan persaudaraan misalnya, wajib bagi kita mentaatinya. Akan tetapi jika pemerintah berpaling dari kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Mentradisikan kejahatan, menebarkan permusuhan misalnya, maka tidak boleh bagi kita mentaatinya.
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فىِ مَعْصِيَّةِ الْخَالِقِ
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Sebelum khatbah ini kita akhiri mari kita dengarkan pernyataan Rasul berikut.
إِذَا اَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ خَيْرًا وَلَّى عَلَيْهِمْ حُلَمَاءَهُمْ, وَقَضَى بَيْنَهُمْ عُلَمَاؤُهُمْ, وَجَعَلَ الْمَالَ فىِ سُمَحَائِهِمْ. وَإِذَا اَرَادَ بِقَوْمٍ شَرًّا وَلَّى عَلَيْهِمْ سُفَهَاءَهُمْ, وَقَضَى بَيْنَهُمْ جُهَّالَهُمْ, وَجَعَلَ الْمَالَ فىِ بُخَلاَئِهِمْ
Apabila Allah SWT. menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijkasana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan, juga Allah jadikan harta benda di tangan orang-orang yang dermawan. Namun jika Allah. menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah, dijadikannya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta benda di tangan orang-orang kikir.
يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولىِ اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فىِ شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ, ذلِكَ خَيْرٌ وَاَحْسَنُ تَأْوِيْلاً
بَارَكَ اللهُ لىِ وَلَكُمْ فىِ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Rabu, 03 Desember 2008

KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH SEMENTARA
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ اْلإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ اْلبَيَانَ وَأَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ سَائِرِ اْلأَدْيَانِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْمَنَّانِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلمَبْعُوْثُ اِلَى كَافَةِ اْلاَنَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ اْلمُمَجَّدِ وَالرَّسُوْلِ السَّنَدِ الْعَظِيْمِ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْاَيَّامِ. اما بعد. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَاُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِطَاعَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ فىِ كُلِّ زَمَانٍ. قال الله تعالى فى كتابه الكريم: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمَوْتِ
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dengan terus berusaha menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Karena hanya dengan demikianlah, kita akan memperoleh ketenangan, kebahagiaan dan lebih-lebih, kemuliaan di hadapan Allah SWT. baik di dunia maupun di akhirat.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Keberadaan kita di dunia ini bukanlah tujuan akhir dari penciptaan manusia, yang dalam arti, setelah kita meninggal dunia maka selesai sudah semua urusan dan tanggung jawab kita. Sebagaimana makhluk lain, seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan, yang mana ketika ia mati maka berakhir pula cerita kehidupannya. Kehadiran kita di dunia ini, adalah satu dari lima tahapan dari perjalanan hidup manusia. Dua tahapan telah kita lalui, yaitu, pertama, alam arwah atau alam ruh. Di mana, di alam tersebut semua ruh manusia dikumpulkan. Baik ruh manusia yang sekarang sudah meninggal dunia maupun ruh manusia yang hingga sekarang belum lahir. Kedua, alam kandungan. Yaitu dalam kandungan ibu kita. Setelah itu barulah kita diturunkan ke alam dunia ini. Kemudian setelah alam dunia ini kita masih akan menempuh dua alam lagi. Masing-masing adalah alam barzakh (alam kubur) dan alam akhirat.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa di alam dunia ini kita hanyalah sementara. Di alam akhiratlah kita akan mendapatkan keabadian hidup. Sementara alam kubur hanyalah pintu gerbang menuju alam akhirat tersebut. Dan untuk menuju alam kubur, semua manusia akan melewati pintu yang disebut kematian. Setelah ia masuk alam kubur maka ia akan dihidupkan kembali –tentunya berbeda dengan kondisi kita sekarang. Paparan ini menggambarkan betapa sebentarnya sebuah kematian bagi manusia. Allah SWT. sendiri telah mensinyalir hal itu dalam sebuah firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمَوْتِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Allah menggunakan kata “dza`iqatun” dalam menjelaskan kematian ini, yang berarti “merasakan”. Dalam pemahaman kita, kata “merasakan” mengandung makna sedikit. Atau yang dalam hal kematian ini berarti sebentar. Lebih jelas, dalam surat Ali Imran kembali Allah SWT. menegaskan:
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ
Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT. itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapatkan rizki.
Sejak di alam kubur inilah, bahkan sejak meninggal, terlepas sudah semua kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT. Manusia tidak lagi harus menjalankan perintah Allah SWT. dan meninggalkan larangan-Nya. Di alam kubur ini hanya ada dua kemungkinan. Pertama, merasakan nikmat kubur sebagai gambaran awal dari nikmat surga. Atau, kedua, mendapatkan siksa kubur sebagai gambaran awal dari siksa neraka kelak.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Lalu apa yang dapat kita persiapkan untuk sebuah kehidupan yang abadi? Apa yang harus kita kerjakan sebelum maut menjemput kita? Itulah mungkin pertanyaan yang pantas kita ajukan. Dalam memberi jawaban atas pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mau mendoakannya.
Ketika kita meninggal dunia, maka semua amal perbuatan kita tidak akan ada yang bermanfaat, kecuali hanya tiga hal. Ketiga hal tersebut adalah, pertama, shadaqah jariyah. Yaitu sumbangan yang memiliki nilai manfaat yang abadi. Seperti membangun masjid, mendirikan lembaga pendidikan, panti-panti asuhan, rumah sakit, membuat jalan, membangun pondok pesantren dan lain-lain. Selagi apa yang disumbangkan tersebut masih dimanfaatkan untuk beribadah pada Allah SWT. maka selama itu pula orang yang menyumbang akan mendapatkan pahala. Sungguhpun ia telah mati. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Yaitu, ilmu yang diamalkan dalam tingkah laku serta diajarkan kepada orang lain. Selagi orang yang diajar tersebut mengamalkan ajarannya, atau bahkan mengajarkannya pula pada orang lain, maka selama itu pula ia akan mendapatkan pahala. Dan yang ketiga adalah anak shalih yang selalu mendo’akannya.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Membentuk anak shalih adalah pekerjaan yang teramat sulit dan berat. Bahkan lebih sulit daripada mencetak anak cerdik-pandai. Lebih-lebih di zaman sekarang ini, zaman yang, kalau boleh kita katakan, sebagai zaman jahiliyah modern. Begitu besar hambatan kita orang tua untuk membawa anak kepada derajat shalih. Anak shalih adalah anak yang memiliki ilmu dan mau mengamalkan ilmunya. Sedangkan ilmu yang dimiliki tersebut haruslah ilmu yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT., bukan ilmu yang justru membuat anak semakin jauh dari Allah SWT. Anak shalih yang mau mendoakan inilah yang akan bermanfaat bagi orang tua ketika dia telah meninggal.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Lewat mimbar ini kembali saya mengajak, marilah ketiga hal di atas benar-benar kita pegang. Benar-benar kita upayakan sebelum maut menjemput kita. Janganlah anak-anak dan harta benda kita justru menjadi penghalang kita untuk ingat pada Allah SWT. sebagaimana peringatan Allah SWT. dalam al-Qur'an:
يأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Marilah kita kenalkan nilai-nilai Islam pada anak-anak kita sedini mungkin. Janganlah kita menunda-nundanya sehingga mereka tercemari oleh dampak negatif globalisasi, karena masa kanak-kanak adalah masa pembentukan karakter dan jati diri. Kekurangtepatan kita dalam mendidik anak bukanlah hal yang tak beresiko. Dampaknya akan kita rasakan bahkan sampai kita meninggal. Semoga ketiga hal di atas dapat kita wujudkan dalam rangka perjalanan panjang kita menuju ke alam baqa yaitu alam akhirat. amin
يأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
بَارَكَ اللهُ لىِ وَلَكُمْ فىِ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
NABI MUHAMMAD ADALAH NABI TERAKHIR
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ اْلإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ اْلبَيَانَ وَأَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ سَائِرِ اْلأَدْيَانِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْمَنَّانِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلمَبْعُوْثُ اِلَى كَافَةِ اْلاَنَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ اْلمُمَجَّدِ وَالرَّسُوْلِ السَّنَدِ الْعَظِيْمِ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْاَيَّامِ. اما بعد. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَاُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِطَاعَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ فىِ كُلِّ زَمَانٍ. قال الله تعالى فى كتابه الكريم: مَاكَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وِلكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْماً
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dengan terus berusaha menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Karena hanya dengan demikianlah, kita akan memperoleh ketenangan, kebahagiaan dan lebih-lebih, kemuliaan di hadapan Allah SWT. baik di dunia maupun di akhirat.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Sungguh keimanan dan ketaqwaan adalah benteng terkuat bagi manusia dalam menghadapi segala bentuk problem kehidupan. Orang yang hampa jiwanya dari keimanan dan ketaqwaan sulit untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, sungguhpun hidupnya berlimangan materi dunia. Kehampaan spiritual dapat memicu lahirnya sikap frustasi bagi manusia dalam menghadapi permasalahannya. Karena orang yang demikian tidak mempunyai sandaran vertical. Kehampaan spiritual juga memicu bagi munculnya sikap menghujat dan menggugat, karena orang yang gersang jiwanya tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang didapat dan dimilikinya. Dan yang pasti, kegersangan spiritual ini merupakan lahan subur bagi program syaitan dalam rangka menghancurkan masa depan manusia itu sendiri, baik yang berekses pada kehidupan dunia maupun kehidupan di akherat kelak. Munculnya fenomena korupsi, pencurian, perampokan dan lain-lain adalah refleksi dari kekurangpuasan hati manusia terhadap materi yang telah dimiliki. Begitu juga bunuh diri dengan cara apapun adalah refleksi dari ketiadaan sandaran baginya, seolah hidup ini dia sendiri yang mengatur dan menentukannya.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Hal-hal tersebut adalah sebagian kecil contoh akibat kegersangan hati manusia dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dan di akhir-akhir ini, syaitan kembali menemukan lahan subur pada manusia di bidang yang berbeda. Syaitan datang dalam tidurnya orang-orang yang frustasi dengan mengaku sebagai Allah yang akan mengutusnya. Karena kurangnya keimanan dan ketaqwaan di hati orang tersebut serta minimnya pengetahuan dan pemahaman keagamaan, maka setelah bangun, dengan penuh percaya diri ia kemudian mengikrarkan diri sebagai nabi utusan Allah SWT. yang diperintah-Nya untuk menegakkan ajaran agama, na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Mungkin kalau sebagai utusan bisa dibenarkan, tetapi bukan utusan Allah melainkan utusan syaitan, yang memerintahkannya untuk menghancurkan Islam. Jika ia mengaku sebagai nabi dan rasul utusan Allah SWT., maka haram bagi kita untuk mempercayainya. Bahkan meragukannya pun haram, karena di dalam sikap ragu ada unsur percaya. Yang benar adalah kita harus yakin, haqul yaqin bahwa ia bukanlah nabi dan bukan pula rasul utusan Allah SWT.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Allah SWT. telah memberikan pernyataan yang sangat jelas secara tekstual, yang seakan tidak mungkin menimbulkan multi tafsir. Dalam al-Qur'an Allah SWT. menyatakan:
مَاكَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وِلكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْما
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Di dalam ayat tersebut, dengan jelas Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Sehingga untuk menangkap substansi makna dari kalimat tersebut kita tidak perlu bertele-tele. Karena kalimatnya sudah sangat jelas. Jika kemudian ada orang yang mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad, itu bukanlah buah penafsiran lain dari kalimat tersebut, tetapi itu adalah kesesatan yang nyata. Dengan demikian dari ayat tersebut dapat kita yakini, bahwa sampai kapanpun dan di manapun Allah SWT. tidak akan pernah mengutus lagi seorang manusia untuk menyebarkan ajaran-Nya. Sehingga wajib bagi umat muslim untuk menolak dan mengingkari siapa saja yang mengaku sebagai nabi maupun mengingkari orang yang dianggap sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW. tanpa harus melalui pertimbangan.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Sungguhpun kita wajib menolak dan mengingkari terjadinya distorsi kenabian ini, akan tetapi, tidak dibenarkan jika penolakan kita tersebut kita refleksikan secara anarkhis. Penolakan secara fisik bukanlah satu-satunya solusi dan bukan pula solusi terbaik. Hendaknya kita menolak kebatilan dengan tanpa harus melahirkan permasalahan baru. Dalam hal ini Allah SWT. pun telah mengajari kita:
أُدْعُ إِلى سَبِيْلِ رَبِّكَ بالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
Bagaimanapun, sebuah keyakinan adalah hasil dari sebuah pemikiran. Dan pemikiran tidak akan mati jika diserang secara fisik. Karena pemikiran adalah kreatifitas rohani bukan kreatifitas fisik manusia. Sehingga untuk menandinginya kita juga harus melalui pemikiran. Dalam hal ini kembali Allah SWT. mengajari kita melalui sebuah firman-Nya:
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتيِ هِيَ أَحْسَنُ
Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Yang terpenting bagi kita kemudian adalah, mari kita kembali kepada Allah SWT., kembali kepada ajaran-Nya yaitu al-Qur'an, dan mari kita terus meneladani Rasul-Nya Muhammad saw. Itulah shirath al-mustaqim (jalan lurus yang diridhai oleh Allah, yang akan menghantarkan kita kepada ketenangan dan kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akherat), sebagaimana yang diharapkan oleh setiap kita. Janganlah kita terkecoh oleh argumen-argumen batil orang-orang yang mengaku sebagai utusan Allah hanya karena mereka merasa memperjuangkan agama Allah. Dan perlu kita ketahui, adalah salah jika ada orang yang memperjuangkan agama Allah SWT. kemudian dia mengaku sebagai nabi. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa, yang meneruskan perjuangan para nabi adalah ulama’. Sebagaimana yang pernah disabdakannya:
الْعُلَمَآءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَآءِ
Ulama adalah pewaris para Nabi
Dari sabda tersebut tersirat sebuah makna bahwa sepeninggal beliau Allah tidak akan mengutus lagi seorang Nabi. Dan satu-satunya penerus perjuangan para nabi adalah para ulama’.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah
Semoga kita senantiasa dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT. dan diselamatkan dari segala fitnah yang memang akhir-akhir ini mulai bermunculan sebagai tanda-tanda datangnya hari kiamat, amin.
مَاكَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وِلكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْماً. بَارَكَ اللهُ لىِ وَلَكُمْ فىِ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

KHUTHBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمُ الْجُمْعَةِ اَفْضَلَ اَيَّامِ اْلاُسْبُوْعِ وَاخْتَصَّهُ بِسَاعَةٍ الدُّعَاءِ فِيْهَا مُجَابٌ مَسْمُوْعُ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً مُحْتَوِيَةً عَلَى كَمَالِ اْلإِخْلاَصِ وَالْحُضُوْعِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيَّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدُ وَالذِّكْرِ الْمَرْفُوْعِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِى الزُّهْدِ وَالْخُشُوْعِ. اما بعد. فَيَاأَيُّهَا النَّاسِ اِتَّقُوا اللهَ فِى جَمِيْعِ الْحَالاَتِ, وَقَالَ جَلَّ جَلاَلُهُ: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ اْلاَنْوَارِ وَسِرِّ اْلاَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفْتَاحِ بَابِ اْليَسَارِ سَيَّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ اْلأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفْضَالِهِ وَارْحَمْنَا وَاحْشُرْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ, يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَيَا عَالِمَ السِّرِّ وَالْخَفِيَّاتِ, رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا وَلِِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْارَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِنَا فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهَ أَكْبَرُ